Citarum, Indah di Hulu Rusak di Hilir

Citarum, Indah di Hulu Rusak di Hilir

Selasa, 30 Mei 2017 | 13:19 WIB
. http://www.sewonartspace.org
AKSARA, Soreang – Citarum sebuah sungai terpanjang & terbesar di Jawa Barat dengan tingkat pencemaran yang paling tinggi. Sekitar 500 Pabrik berdiri di sepanjang alirannya dan juga banyak ditemukan “saluran siluman” sebagai tempat pembuangan limbah ke sungai Citarum.

Kilometer Nol Sungai Citarum berada di Situ Cisanti, danau seluas 7 hektare yang dikelola oleh pihak Perhutani ini  dikelilingi gunung, antara lain gunung Wayang, gunung Windu dan gunung Rakutak.

“Situ Cisanti ini awalnya hanya danau dan rawa, tapi pada tahun 2001 pemerintah mulai membenahi dan membangun parit di pinggiran kaki gunung untuk menahan longsoran tanah,” kata Lili Muslihat salah seorang pemerhati lingkungan di Kabupaten Bandung kepada AKSARA, Rabu (17/5/2017).

Menurut Lili, ada 2 buah pintu air kiri dan kanan yang merupakan awal aliran sungai Citarum menuju perkampungan Tarumajaya tempat masyarakat sekitar menggunakannya untuk keperluan rumah tangga, pertanian, dan peternakan mereka.

Situ Cisanti berada di Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, dan lokasinya tepat berada di kaki Gunung Wayang & Rakutak. Danau ini terbentuk dari beberapa mata air yang mengalir dari seputaran gunung.

“Ada tujuh mata air besar yang mengaliri Cisanti, yaitu Cikahuripan, Mata air Mastaka Citarum, Cihaniwung, Cisadane, Cikawedukan, Cikoleberes, dan mata air Cisanti,” Lili menerangkan.

Mata air Cikahuripan dan Mastaka Citarum ini menurut Lili, kita bisa melihat langsung bagaimana mata air meluap keluar dari dalam tanah, dari sela-sela pohon besar, dan dari sela-sela bebatuan.

“Dari dulu banyak orang sengaja datang ke sini untuk berziarah, berdoa, mandi, dan meminum air dari mata air tersebut dengan tujuan untuk ketenangan batin,” kata Lili.

Di kawasan Situ Cisanti, cerita Lili ada situs petilasan dari Dipati Ukur, seorang Wedana Bupati Priangan, berbentuk serupa makam sepanjang kurang lebih 5 meter.

“Dalem Dipati Ukur merupakan tokoh sejarah Sunda. Beliau adalah Wedana para Bupati Priangan bawahan Mataram pada abad ke-17. Dengan adanya situs peninggalan ini kita harus sama-sama menjaga keindahan dan kebersihan lokasi ini termasuk sampai ke hilir,” imbuhnya.

Konon penunggu mata air di Cisanti ini dikenal dengan nama Eyang Dewi Mayang Cinde dan Raden Kalung. Entah apa jadinya nanti, ketika aliran air dari Cisanti ini rusak karena dijadikan pembuangan sampah, limbah rumah tangga, limbah peternakan, dan limbah industri.

Sampah dan limbah rumah tangga berperan dalam pencemaran sungai  sekitar 70% dari keseluruhan limbah. Untuk mewujudkan Citarum bersih dan indah dari hulu sampai ke hilir, diperlukan kesadaran untuk menanggulanginya agar sungai Citarum yang indah di hulu ini tidak rusak di hilir.

Ayie Sundana / gnr

Tidak Ada Komentar.


Tinggalkan Komentar


Berita Lainnya

  • Sabtu, 1 Juli 2017 | 07:23 WIB

    Kolam Cinta di Tengah Reruntuhan Sang Pemancar

  • Sabtu, 1 Juli 2017 | 07:07 WIB

    Reruntuhan Gedung Radio Malabar Daya Tarik Wisatawan

  • Selasa, 20 Juni 2017 | 15:41 WIB

    Akhir Juni, Jay J Rilis Album Terbaru

  • Senin, 12 Juni 2017 | 18:03 WIB

    Membangun Peradaban dari Masjid

  • Minggu, 4 Juni 2017 | 10:28 WIB

    BKKBN adakan Mudik Gratis Bagi Peserta KB

  • Minggu, 4 Juni 2017 | 10:07 WIB

    Kualitas Bus Persib Sekelas Klub Dunia