Perajin Musik Sunda, Bertahan di Tengah Terpaan Teknologi

Perajin Musik Sunda, Bertahan di Tengah Terpaan Teknologi

Senin, 29 Mei 2017 | 17:17 WIB
. Fransiskus X Waja
AKSARA, Bandung – Di tengah terpaan teknologi dan membanjirnya gadget, wanita ini bergeming. Dia tetap konsisten meneruskan usaha keluarga, menjadi perajin alat musik dan wayang Sunda.

Dialah Mulyati. Wanita 36 tahun itu bertekad mempertahankan ciri khas daerah Sunda lewat usaha kerajinannya. “Ini ciri khas daerah kami,” kata Mulyati kepada AKSARA, Kamis (11/5/2017).

Toko kerajinan Mulyati bernama One Java Seni. Lokasinya ada di trotoar Jalan Soekarno-Hatta No 5. Saat AKSARA menyambangi toko tersebut, Mulyati tampak ditemani dua pekerja.

“Selain menjadi lambang ciri budaya ‎usaha mempertahankan kesenian budaya juga memberikan tempat kepada perajin seni untuk memenuhi nafkah hidup,” kata dia.

Deretan beduk tampak berjejer di trotoar depan Toko One Java Seni. Di dalamnya berderet kendang, gamelan dan gong besar. Alat kesenian sunda itu tertata rapi di lantai toko.

Sementara alat musik seperti seruling, kecapi, rebana, dan ‎angklung dipajang membentuk hiasan di dinding toko. Di depannya miniatur wayang orang ditata di atas meja panjang.

‎”Seandainya ada modal mah kita pengin buat yang lebih besar kayak Saung Ujo gitu yang ada sekolah seninya, tapi kita terbentur kendala modal,” keluh Mulyati.

Mulyati lantas berkisah. Menurut dia, usaha kerajinan alat musik Sunda itu dirintis sejak 7 tahun lalu. Promosinya hanya lewat akun medsos dan website. “Itulah cara kita mempromosikan usaha ini supaya jangan mati lah kesenian tradisional seperti ini,” jelasnya.

Dia berjanji tak akan menutup usaha tersebut. Meski persaingan usaha ketat dan sulit mencari modal, dia merasa kasihan dengan nasib para perajin.

“Seperti usaha wayang kan kita ngambil orang di sini. Kalau wayang kita cuma kasih modal, dia yang cari bahan dan mengerjakannya sehingga kalau ini tutup kasihan mereka juga karena pasti akan mati lapangan pekerjaannya,” jelasnya.

Memang lapangan pekerjaan lain cukup banyak tersedia. Namun Mulyati tetap bertekad lapangan kerja kerajinan kkesenian tidak boleh mati. “Karena ini menjadi ciri khas bangsa kita dengan warisan kesenian dari daerah-daerahnya masing masing,” imbuhnya.

Fransiskus X. Waja / gnr

Tidak Ada Komentar.


Tinggalkan Komentar


Berita Lainnya

  • Sabtu, 1 Juli 2017 | 07:23 WIB

    Kolam Cinta di Tengah Reruntuhan Sang Pemancar

  • Sabtu, 1 Juli 2017 | 07:07 WIB

    Reruntuhan Gedung Radio Malabar Daya Tarik Wisatawan

  • Selasa, 20 Juni 2017 | 15:41 WIB

    Akhir Juni, Jay J Rilis Album Terbaru

  • Senin, 12 Juni 2017 | 18:03 WIB

    Membangun Peradaban dari Masjid

  • Minggu, 4 Juni 2017 | 10:28 WIB

    BKKBN adakan Mudik Gratis Bagi Peserta KB

  • Minggu, 4 Juni 2017 | 10:07 WIB

    Kualitas Bus Persib Sekelas Klub Dunia