Curug Dago Kota Bandung Nasibmu Kini

Curug Dago Kota Bandung Nasibmu Kini

Jumat, 2 Juni 2017 | 06:02 WIB
Salah satu pemandangan di Curug Dago. (Foto:Fransiskus X Waja)
AKSARA, Bandung- Indahnya  Curug Dago ‎sudah terkenal sejak zaman dahulu. ‎Batu prasasti berbahasa dan beraksara Thai jadi penegasan eksistensi wisata air terjun ini. Batu itu peninggalan raja Thailand Chulalongkorn II (Rama IV) ketika  peziarahannya ke Bandung pada 1896 Masehi.

Air jernih, udara sejuk dan keanekaragaman hayati dulunya tumbuh berdampingan di sekitar kawasan yang kini menjadi Taman Hutan Raya Ir Djuanda ini.

Sayangnya, kejernihan aliran  Sungai Cikapundung ini tinggal cerita. Sampah rumah tangga non-organik,  limbah produksi tahu, sampah peternakan hewan di hulu sungai jadi penyebab kotornya air Curug Dago.

Deni Heryana  warga setempat juga petugas tiket masuk wisata ini  mengatakan, tahun 1997 adalah waktu terakhir dia melihat orang mandi di sungai ini. Tahun berikutnya,  kata dia, jangankan mandi, mencuci tangan pun tak ada yang mau

‎"Kalau udah lewati permukiman gitu jangankan untuk mandi, nyuci tangan aja ngeri kalau airnya gitu," ungkapnya kepada AKSARA, Kamis (1/6/2017) di sekitar kawasan wisata THR Ir Djuanda Dago.

Maklum, kata dia, sebelum  ke Curug Dago, aliran air yang berasal dari empat anak sungai ini melewati beberapa perkampungan warga.

"Dari atas, ada 4 anak sungai yang melewati permukiman warga. Ada Cikapundung, Cibodas, Maribaya, Mekarwangi‎, lalu lewat pemukiman lagi kaya sukaresmi yang masuk Coblong dan wilayah Bandung Barat," jelasnya.

‎Air Sungai yang tercemar, kata Deni, turut jadi alasan sepinya wisata ini. Selain itu, bahaya banjir yang bisa datang kapan saja selama musim penghujan. "Sekarang sudah mending, airnya nggak terlalu hitam kehijauan gitu, kalau dulu mah wah parah," sebutnya.

‎K‎eadaan air yang tidak keruan, kata dia, adalah akibat dari banyaknya pabrik yang berdiri di sekitar hulu sungai. Walhasil, sungai sebagai tempat pembuangan limbah.

‎"Dari hulunya juga kaya peternak kan sampahnya juga sampai ke sungai, pabrik tahu yang pembuangannya juga ke sungai, ‎belum lagi masyarakat yang tinggal di pinggir sungai yang tinggal buang aja sampahnya ke sungai,‎" paparnya.

Sejumlah upaya, kata Deni, telah dilakukan untuk menyelamatkan aliran sungai dari polusi sampah. Namun, tidak terlalu berdampak besar bila aliran sungai masih dijadikan tempat pembuangan sampah.

"Ada juga sih komunitas-komunitas yang suka beraktivitas di sini, acara bersih-bersih Cikapundung juga pernah dilakukan di sini,  tapi nggak terlalu dampak sih kalau soal masalah sampah," pungkasnya. 

Fransiskus X. Waja / gnr

Tidak Ada Komentar.


Tinggalkan Komentar


Berita Lainnya

  • Sabtu, 29 Juli 2017 | 13:47 WIB

    Ini Dia 5 Tips Menjaga Kesehatan Anak di Sekolah

  • Selasa, 20 Juni 2017 | 16:00 WIB

    Ini dia 9 Tips Mudik Aman dan Sehat

  • Senin, 12 Juni 2017 | 14:00 WIB

    Manfaat Daun Kersen untuk Asam Urat

  • Senin, 12 Juni 2017 | 13:00 WIB

    Ternyata Daun Belimbing bisa Meningkatkan Nafsu Makan

  • Sabtu, 10 Juni 2017 | 19:00 WIB

    Kenali Penyebab Stroke dengan 8 Hal Ini

  • Sabtu, 10 Juni 2017 | 16:00 WIB

    10 Cara Tradisional untuk Mengobati Sakit Maag

  • Jumat, 9 Juni 2017 | 08:30 WIB

    Wow, Messi Beli Hotel Bintang Empat